“بسم الله“, atau yang lebih lengkapnya “بسم الله الرحمن الرحيم”, merupakan kalimat yang lazim diucapkan oleh kita sebagai umat Islam ketika akan melakukan sesuatu. Namun tahukah anda bahwa kalimat mulia tersebut ternyata tidak hanya sebatas apa yang biasa diucapkan oleh umat Islam di keseharian mereka, tidak hanya sebatas ucapan ritual yang biasa terucap, hanya lewat di bibir dan tidak dimaknai secara mendalam, tapi juga merupakan untaian kata yang indah yang memiliki makna dan keutamaan yang mendalam. Alangkah baiknya bila kita juga mengetahui keutamaan dan serba-serbi yang terkandung di dalam ayatullah tersebut.
Makna dan Tafsir
Seperti yang telah kita ketahui bersama dalam banyak kitab terjemahan baik yang resmi dikeluarkan oleh departemen agama maupun kitab lainnya, bahwa makna بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ adalah “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Dalam ayat yang agung tersebut, kita dapat temukan tiga nama sekaligus, yaitu اللهِ, الرَّحْمنِ dan الرَّحِيمِ.
Allah adalah nama yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi. Menurut suatu pendapat, Allah adalah Ismul A'zam karena Dia memiliki semua sifat, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Ma-ha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Ma-ha Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang menciptakan, Yang Mengadakan, Yang membentuk Rupa, Yang mempunyai nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Al-Hasyr: 22-24)
Semua asma lainnya dianggap sebagai sifat-Nya, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
Allah mempunyai asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu. (Al-A'raf: 180)
Allah Swt. berfirman:
Katakanlah, "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai asma-ul husna (Al-Isra: 110)
Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barang siapa menghitungnya (menghafalnya), niscaya masuk surga.
Ar-Razi di dalam kitab Tafsirnya menyebutkan dari sebagian mereka bahwa Allah mempunyai lima ribu isim (nama). seribu nama terdapat di dalam Al-Qur'an dan sunnah yang sahih, seribu terdapat di dalam kitab Taurat, seribu di dalam kitab Injil, seribu di dalam kitab Zabur, dan yang seribu lagi di dalam Lauh Mahfuz.
Allah adalah isim yang tidak dimiliki oleh selain Allah sendiri Yang Maha agung lagi Maha tinggi. Karena itu, maka dalam bahasa Arab tidak terdapat isytiqaq (bentuk asal) dari fi'il-nya. Segolongan kalangan ahli nahwu ada yang berpendapat bahwa lafaz "Allah" merupakan isim jamid yang tidak mempunyai isytiqaq. Pendapat ini di-nukil oleh Al-Qurtubi dari sejumlah ulama, antara lain Imam Syafii, Al-Khattabi, Imamul Haramain, Imam Gazali, dan lain-lainnya.[1]
Adapun makna الرَّحْمنِ الرَّحِيمِkeduanya merupakan isim yang berakar dari bentuk masdar Ar Rahman dengan maksud mubalagah. lafaz Ar-Rahman lebih balig (kuat) daripada lafaz Ar Rahim. Di dalam ungkapan Ibnu Jarir terkandung pengertian yang menunjukkan adanya riwayat yang menyatakan kesepakatan ulama atas hal ini. Di dalam kitab tafsir sebagian ulama Salaf terdapat keterangan yang menunjukkan kepada pengertian tersebut, seperti yang telah disebutkan di dalam asar mengenai kisah Nabi Isa a.s. Disebutkan bahwa dia pernah mengatakan, "Ar-Rahman artinya Yang Maha Pemurah di dunia dan di akhirat, se-dangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Penyayang di akhirat."
Abu Ali Al-Farisi mengatakan bahwa ar-rahman adalah isim yang mengandung makna umum dipakai untuk semua jenis rahmat yang khusus dimiliki oleh Allah swt, sedangkan ar-rahim hanya dikhususkan untuk orang-orang mukmin saja, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Al-Ahzab: 43)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa keduanya merupakan isim yang menunjukkan makna lemah lembut, sedangkan salah satu di antaranya lebih lembut daripada yang lainnya, yakni lebih kuat makna rahmatnya daripada yang lain.
Kemudian diriwayatkan dari Al-Khattabi dan lain-lainnya bahwa mereka merasa kesulitan dalam mengartikan sifat ini, dan mereka mengatakan barangkali makna yang dimaksud ialah lembut, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam sebuah hadits, yaitu:
Sesungguhnya Allah Maha lembut, Dia mencintai sikap lembut dalam semua perkara, dan Dia memberi kepada sikap yang lembut pahala yang tidak pernah Dia berikan kepada sikap yang kasar.
Ibnul Mubarak mengatakan makna ar-rahman ialah "bila diminta memberi", sedangkan makna ar-rahim ialah "bila tidak diminta marah", sebagaimana pengertian dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Abu Saleh Al-Farisi Al-Khauzi, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
Barangsiapa yang tidak pernah meminta kepada Allah, niscaya Allah murka terhadapnya. Salah seorang penyair mengatakan:
Allah murka bila kamu tidak meminta kepada-Nya, sedangkan Bani Adam bila diminta pasti marah.